Tampilkan postingan dengan label efek peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label efek peternakan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2008

Cegah perubahan iklim dengan mengurangi makan daging

London, Salah satu isu yang masih hangat pada 2008 ini adalah perubahan iklim. Bergulirnya isu tersebut membuat orang di dunia berbondong-bondong memperbaiki gaya hidupnya.

Perubahan iklim telah menyebabkan kerusakan alam yang miris, seperti mencairnya es-es abadi di Kutub Utara. Sejumlah ahli di dunia bahkan memprediksi lapisan es abadi di Kutub Utara mungkin hilang sama sekali tahun ini.

Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, kenaikan muka air laut akibat pencairan es besar-besaran tidak dapat dicegah. Banjir mengancam kawasan pesisir seluruh dunia. Kenaikan suhu atmosfer juga ditengarai memicu badai makin sering dan kuat sehingga meningkatkan risiko ancaman kerusakan.

Untuk mencegah hal tersebut bisa dilakukan dengan sederhana asal disadari semua orang. Pakar iklim dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), salah satu badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Rajendra Pachauri, berhasil menemukan hal yang sangat sederhana untuk memperlambat efek perubahan iklim di dunia.

Menurut dia, mengurangi konsumsi daging dapat mereduksi efek tersebut. Dia mengatakan setiap orang harus rela meluangkan satu hari dalam seminggu, hidup tanpa asupan daging.

"Jangan makan daging satu hari dalam satu minggu secara rutin, itu akan mereduksi efek tersebut," ujarnya. Pria vegetarian berusia 68 tahun itu menuturkan diet ini sangat penting karena akan mengurangi jumlah ternak.

Sebab, menurut Badan Pangan Dunia (FAO), usaha peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca secara langsung sebesar 18 persen dari proses pengolahan hingga pemotongan serta gas buang ternak yang mengandung methan. Pengendalian ternak bakal memberikan dampak signifikan.

Selasa, 09 Desember 2008

Peternakan Menyumbang Gas Rumah Kaca Lebih Besar daripada Transportasi

Presiden Terpilih Barack Obama: Peternakan Menyumbang Gas Rumah Kaca Lebih Besar daripada Transportasi

Baru-baru ini Presiden terpilih Barack Obama berbincang-bincang dengan kontributor New York Times Michael Polen mengenai kebijakan pangan dan bahaya sistem peternakan saat ini.
Presiden terpilih Obama berkata:
"Saya baru saja membaca sebuah artikel di New York Times yang ditulis oleh Michael Pollen mengenai pangan dan fakta bahwa seluruh sistem peternakan kita bergantung pada minyak yang harganya murah. Sebagai akibatnya, sektor peternakan kita sebenarnya menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada sektor transportasi kita. Dan sementara itu juga, peternakan menciptakan monokultur yang rentan terhadap ancaman ketahanan nasional, rentan terhadap harga pangan yang meroket ataupun anjlok, naik turunnya harga komoditas, dan sebagian bertanggung jawab atas ledakan biaya medis karena peternakan menyebabkan diabetes tipe 2, stroke, dan penyakit jantung, obesitas, semua hal yang mendorong pengeluaran besar-besaran dalam biaya medis kita. Itu hanya satu sektor ekonomi. Hal yang sama juga berlaku di sektor transportasi. Hal yang sama juga berlaku dalam konstruksi bangunan. Di seluruh bidang sama.
Bagi kami boleh dibilang kami akan memperbarui total bagaimana kita menggunakan energi untuk menangani perubahan iklim, menangani ketahanan nasional, dan mendorong ekonomi kita, itu akan menjadi prioritas nomor satu saya ketika saya masuk bekerja, dengan asumsi,
sudah jelas, bahwa kita sudah cukup berbuat sesuatu untuk menstabilkan
situasi ekonomi saat ini."
Akhirnya, Barack Obama mengakui secara terbuka bahwa peternakan menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada seluruh transportasi.
Bagi Anda yang belum tahu mengenai hal ini, silakan simak laporan PBB berikut ini :
Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%).3 Lebih lanjut, dalam laporan FAO, "Livestock's Long Shadow", 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2)4.
Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan "Kick The Habit", 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2. Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk berhenti makan daging untuk mengerem pemanasan global.
"Jika seluruh dunia menjadi 100% vegetarian saat ini, efek baiknya akan terlihat kira-kira dalam 60 hari. Dunia akan kembali menjadi Firdaus.

Kamis, 04 Desember 2008

Polusi Udara akibat peternakan

Pabrik peternakan juga memproduksi debu dan kontaminasi lain dalam jumlah besar yang menyebabkan polusi udara. Sebuah penelitian di Texas menemukan bahwa banyak pakan ternak di negara bagian tersebut menghasilkan lebih dari 14 juta pon debu pertahun yang mengandung organisme biologi aktif seperti bakteri, jamur, dan fungi yang berasal dari kotoran dan makanan.

Kotoran dalam jumlah besar yang dihasilkan dari peternakan ini mengeluarkan gas beracun seperti hydrogen sulfide dan ammonia ke udara. Berdasarkan laporan dari EPA ( Enviromental Protection Agency – Dinas Perlindungan Lingkungan ) hampir 80 % dari emisi ammonia di Amerika Serikat berasal dari sisa pembuangan hewan.

Seakan masalah kimia dari sisa pembuangan hewan tidak cukup besar, industri daging dan hewani menambah masalah krisis kualitas udara. Ketika tempat penampungan limbah yang menampung berton – ton kotoran dan urin sudah penuh, pabrik peternakan secara berkesinambungan akan mengurus batas polusi air dengan menyemprotkan pupuk cair ke udara, menghasilkan kabut yang akan terbawa oleh angin. Penduduk sekitar terpaksa menghirup racun dan bakteri patogen dari pupuk yang disemprot.

Menurut laporan Senat negara bagian California, “ Penelitian menunjukan kalau penampungan yang menebarkan racun kimia ke udara dapat menyebabkan masalah peradangan, daya tahan tubuh melemah , iritasi, dan gangguan kimia saraf pada manusia.

Selasa, 02 Desember 2008

Efek Peternakan

Setiap hari jutaan pon dari sisa buangan dan kotoran yang dihasilkan dari hewan peternak di tampung di danau yang keruh dan kotor. Danau ini secara berkala meluap ke jalur air sekitar dan menyebabkan kematian ikan – ikan dan hewan – hewan lain dalam jumlah besar. Tahun 1995, ketika 25 juta galon urin dan kotoran babi jantan yang berbau busuk meluap ke sungai North Carolina, antara 10 sampai 14 juta ekor ikan mati. Luapan ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan dengan bencana tumpahan minyak Exxon-Valdez, tetapi meskipun hanya menjalankan pabrik peternakan yang kecil bisa menimbulkan kerusakan yang besar bagi lingkungan. Pestisida, antibiotik, hormon pertumbuhan yang sangat kuat yang menumpuk di daging hewan juga ditemukan di tinja, dan bahan kimia ini memiliki efek merusak yang sangat besar pada ekosistem disekitar pabrik peternakan.Sebagai contoh, Baru- baru ini di West Virginia dan Maryland para ilmuan menemukan pertumbuhan ovarium pada ikan jantan, dan mereka mencurigai kalau cacat kelainan pada ikan ini disebabkan tinja ayam yang sarat dengan obat-obatan yang berasal dari pabrik peternakan.

EPA melaporkan kotoran dari ayam, babi jantan yang dikebiri dan hewan ternak lainnya menyebabkan polusi sepanjang 35.000 mil di sungai 22 negara bagian dan mengkontaminasi air bawah tanah di 17 negara bagian. Disamping masalah lingkungan yang disebabkan sisa pembuangan ternak, bakteri berbahaya seperti E.Coli yang berasal dari air selokan di peternakan juga bisa menimbulkan penyakit yang serius pada manusia. Polusi yang disebabkan oleh pabrik peternakan juga merusak sebagian dari laut di dunia.

Di tengah tengah negara Amerika serikat, Aliran arus sungai membawa tinja dari pabrik peternakan ke sungai Mississipi, yang kemudian mengendapkannya di teluk meksiko. Nitrogen dari tinja hewan dan pupuk yang biasanya digunakan untuk meyuburkan tanaman untuk makanan ternak menyebabkan peningkatan yang sangat cepat dari algae, dan menyisakan sedikit oksigen untuk mahkluk hidup lain.Laporan yang dikeluarkan tahun 2006 oleh Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfir mengemukakan kalau Teluk Meksiko yang mana merupakan daerah mati (daerah dimana semua binatang laut dan tanaman tidak bisa hidup) sekarang ini sudah berukuran setengah dari negara bagian Maryland.Tahun 2006, sebuah studi terpisah dari Universitas Princetown mengemukakan bahwa mengadopsi pola makan vegetarian untuk menggantikan produksi daging dapat menurunkan level kadar nitrogen secara dramatis di teluk daerah mati menjadi kecil atau hilang.

Peternakan ikan juga menyebabkan polusi air. Petani menjejalkan ratusan ikan dalam sebuah kurungan kecil, dan akumulasi dari tinja serta sisa buangan lain membuat kolam ikan seperti selokan yang terbuka. Tinja, ikan dan bangkai ikan yang bercampur dengan makanan ikan yang mengandung antibiotik dalam jumlah besar mengendap di bawah kurungan peternakan ikan menyebabkan dasar laut membusuk di beberapa area, dan lumpur kotoran ikan dan puing – puing yang lain meracuni ekosistem laut yang sudah hampir rusak.

Ajaibnya, Pemerintah federal mengizinkan pabrik peternakan untuk terus merusak kesehatan penduduk Amerika Serikat yang tinggal dekat pabrik peternakan.Tahun 2006, masyarakat dan advokasi pembela lingkungan menunjukkan keterkejutan dan kemarahan ketika EPA menunjukkan satu kelemahan hukum baru dimana pabrik peternakan bahkan semakin mudah untuk mencemarkan air dan udara tanpa hukuman apapun.Ed Hopkins, Direktur Sierra Club’s Environmental Quality Program , mengatakan kelemahan hukum ini berarti pabrik – pabrik peternakan ini akan terus menggunakan sungai – sungai kita sebagai selokan.