Jumat, 09 Januari 2009

Pangeran Albert Kampanye Global Warming

PUNTA ARENAS, SENIN — Pangeran Albert II meninggalkan Monaco, Senin (5/1), memulai ekspedisi ke Antartika di Kutub Selatan untuk menggugah kepedulian publik terhadap pemanasan global (global warming). Perjalanan tersebut akan melengkapi pengalamannya yang lebih dulu mengunjungi Kutub Utara pada 2006.
Ia akan menghabiskan waktu hingga 22 Januari dan berkunjung ke 26 base camp internasional yang ada di benua beku tersebut. Tempat kunjungan pertama yang dituju adalah King George Island yang merupakan stasiun penelitian bersama sejumlah negara. Dari sana, kapal akan singgah di Patriot Hill yang menjadi base camp peneliti AS dan Amundsmen-Scott yang merupakan pusat penelitian Perancis dan Italia.
Selanjutnya, misi dilanjutkan ke Stasiun Vostok dan Novolazarevskaya yang menjadi pusat perhatian Russia. Dari sana, lanjut ke Stasiun Davis Australia, Stasiun Princess Elisabeth yang menjadi basis peneliti Belgia serta stasiun para peneliti Norwegia.
"Ini merupakan salah satu kawasan paling sensitif di dunia. Segala sesuatu yang terjadi di Kutub Selatan seperti di Kutub Utara berpenagruh terhadap semua daearah di planet ini," ujarnya. Menurutnya, misi ekspedisi tersebut sekaligus menegaskan dukungan Monaco terhadap Traktat Antaryiksa yang bertujuan mencegah eksploitasi komersial maupun militer untuk kepentingan sempit masing-masing negara.

Pangeran Albert II yang merupakan anak laki-laki Puteri Rainier selama ini dikenal sebagai tokoh yang peduli lingkungan. Suami artis cantik Hollywood Grace kelly itu telah alma aktif dalam kegiatan lingkungan bahkan mendirikan yayasan lingkungan pada tahun 2006.
Salah satunya menjadi salah satu penawar tertinggi untuk menamai spesies baru ikan-ikan yang ditemukan di Raja Ampat, Papua Barat melalui Blue Ocean Auction dua tahun lalu. Dana yang diberikan digunakan untuk mendanai konservasi lingkungan di daratan dan perairan dekat kawasan Kepala Burung Papua itu.

Rabu, 07 Januari 2009

Ponsel dari botol bekas


Jangan buang bekas botol air mineral yang Anda minum karena barangkali kelak itu akan menjadi handphone yang Anda pakai. Motorola Inc, perusahaan teknologi informasi dari Amerika Serikat kemarin mengumumkan bahwa mereka telah membuat telepon seluler dengan bahan dasar botol-botol bekas.

Motorola mengklaim ponsel yang dilepas dengan kode seri W233 Renew ini adalah perangkat komunikasi pertama di dunia yang bebas unsur karbon. Casing telepon terbuat dari plastik daur ulang, ada pun pengolahan plastik dilakukan dengan meminimalisasi pembakaran karbon saat peleburannya. Tidak hanya itu, seluruh proses pembuatan dan distribusi juga dilakukan dengan menekan penggunaan energi sampai 20 persen dari proses biasa.

Dari sudut teknologi, ponsel ini sebetulnya tidak terlalu istimewa. Perlengkapan yang disediakan seperti laiknya ponsel yang sudah banyak beredar. Ada koneksi Wi-Fi, touchscreen, kemampuan video conferencing, dan jaringan GSM yang disempurnakan. Namun bagi mereka yang benar-benar prihatin pada lingkungan global, ponsel ini memberi alternatif baru. Harganya? Belum diumumkan, karena produk ini baru akan dipasarkan bulan depan. Saat ini, W233 masih dipamerkan di Consumer Electronic Shows yang akan dibuka pekan depan di Las Vegas.

source

Arnold Schwarzenegger - Global Climate Summit

BEVERLY HILLS, Calif. (AP) — Gov. Arnold Schwarzenegger opened his international climate change summit on Tuesday by upstaging himself with an even bigger political star — President-elect Barack Obama.

Schwarzenegger, a Republican whose efforts to combat global warming in California have generated worldwide acclaim, wants to show that governments can balance environmental protection and economic growth. He hopes his summit will influence negotiations over a new climate treaty during a U.N. gathering in Poland next month.

In a taped message to attendees, Obama said his administration is committed to a cause that has all but languished at the federal level during the term of President George W. Bush.

"Once I take office, you can be sure that the United States will once again engage vigorously in these negotiations and help lead the world toward a new era of global cooperation on climate change," Obama said.

U.N. negotiators have a December 2009 deadline to complete the next global warming treaty, which would succeed the 1997 Kyoto Protocol. That treaty, which expires in 2012, does not include the U.S. or China — the world's largest emitters.

Negotiators want to cut in half the amount of carbon dioxide discharged into the atmosphere from transportation, industry and power generation by mid-century.

In his roughly four-minute address to Schwarzenegger's conference, Obama said the U.S. economy would continue to weaken if climate change and dependence on foreign oil are not addressed.

He reiterated his support for cutting greenhouse gas emissions using a cap-and-trade system, an approach also favored by Schwarzenegger. Obama said he would establish annual targets to reduce emissions to their 1990 levels by 2020 and reduce them another 80 percent by 2050.

Obama also promoted anew his proposal to invest $15 billion each year to support private-sector efforts toward clean energy. He said tackling climate change can create millions of new jobs as the U.S. invests in technologies to promote solar and wind power, biofuels and cleaner
coal-fired plants.

"I promise you this: When I am president, any governor who's willing to promote clean energy will have a partner in the White House," Obama told the participants. "Any company that's willing to invest in clean energy will have an ally in Washington. And any nation that's willing to join the cause of combating climate change will have an ally in the United States of America."

Scientists say the kind of ambitious goals set by Schwarzenegger and Obama must be reached to minimize the consequences of rising global temperatures.

The U.N.'s Intergovernmental Panel on Climate Change has said temperatures worldwide could increase between 4 degrees and 11 degrees Fahrenheit by 2100 unless nations reduce their emissions.

Just how countries will cut emissions remains a topic of intense debate, especially as the world grapples with the worsening financial crisis.U.S. and foreign businesses, as well as some European countries, havequestioned whether cutting emissions will be too costly.

Schwarzenegger said states, provinces and countries can cut emissions by forming partnerships, as he has done as governor.

"I still have friends in the business world that come to me and say that this is going to hurt the economy," Schwarzenegger said in his opening remarks. "But of course, we believe very strongly it is going to help the economy."

Schwarzenegger has signed partnerships with governors of seven Western states and four Canadian provinces to develop regional cap-and-trade systems. He also has an agreement with the state of New York to explore linking California's future carbon market with a trading system in the Northeast.

The governor also has signed agreements with the United Kingdom and Australia's premier in Victoria to combat climate change. And Schwarzenegger along with governors from Illinois and Wisconsin signed agreements Tuesday night with government representatives from Brazil and
Indonesia to combat tropical deforestation.

Whether countries such as China will sign off on emission mandates remains a point of contention in international negotiations.

China has argued that the U.S. and other industrialized countries should take the lead on cutting greenhouse gas emissions. The nation's top climate bureaucrat reiterated that sentiment Tuesday in a meeting with reporters.

"Even now, per capita emissions in the U.S. are still five times higher than in China," said Gao Guangsheng, director general of the Department of Climate Change at China's National Development Reform Commission.

He said China's success in reducing emissions in the future will depend on whether the U.S. and other countries share technology and invest in his country.

Schwarzenegger addressed attendees from 19 other countries and 17 states. He announced the conference in September and sent out some 1,400 invitations to regional government representatives, scientists, policy experts and industry representatives.

The two-day summit at the Beverly Hilton Hotel has drawn more than 800 attendees to discuss strategies to cut greenhouse gas emissions.

Republican Gov. Charlie Crist of Florida and Democratic governors Rod Blagojevich of Illinois, Kathleen Sebelius of Kansas and Jim Doyle of Wisconsin are co-hosts.

/Associated Press Writer Liz Sidoti in Washington, D.C., contributed to this report./

"Be Veg. Go Green. Save the Planet."

Senin, 05 Januari 2009

Punahnya hutan

  • Indonesia menghancurkan kira-kira 51 km persegi hutan setiap harinya, setara dengan luas 300 lapangan bola setiap jamnya. Ini benar-benar rekor dunia yang menyedihkan.
  • Data dikutip dari website greenpeace se-Asia menyebutkan angka tersebut diperoleh dari kalkulasi data laporan State of the World's Forests 2007 yang dikeluarkan the UN Food & Agriculture Organization's (FAO)
  • Aplaus edisi 48/ 9-22 juni 2007 (Analisa)
  • Bayangkan di USA saja ada lebih dari 500 pabrik kertas dan secara global diperkirakan 10.000 pabrik kertas yang sedang beroperasi penuh di seluruh dunia!
  • Sebatang pohon (lebar 8 kaki, dalam 4 kaki, tinggi 4 kaki) dapat menghasilkan:
  • 1000 s/d 2000 pound kertas
  • 12 meja makan
  • 7,5 juta tusuk gigi
  • 942 buku skripsi 100 halaman
  • 61.370 amplop bisnis
  • 1.200 eksemplar buku National Geographic
  • 2.700 eksemplar surat kabar
  • Selain menghasilkan kertas, selama pemrosesan tersebut juga menghasilkan energi kalor yang secara tidak langsung menyebabkan pemanasan global dan berbagai zat beracun seperti dioxin yang mematikan bagi makhluk hidup.

Minggu, 04 Januari 2009

Es Kutub Mencair sudah mencapai lebih dari 2 triliun ton

LEBIH dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.

"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.

Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.

Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.

"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.

Rabu, 31 Desember 2008

Global warming mengancam punah nya kehidupan di bumi

Global warming tidak hanya menyebabkan perubahan iklim, tetapi juga mengganggu interaksi seksual di kehidupan liar. Salah satu dampak yang mengkhawatirkan adalah terganggunya perkembangbiakan makhluk hidup karena kenaikan suhu cenderung melahirkan banyak pejantan daripada betina.

Pada kebanyakan hewan melata (reptil), jenis kelamin ditentukan seberapa suhu pengeraman telur setelah dibuahi hingga menetas. Jika suhunya di atas suhu rata-rata, biasa disebut pivotal temperature, hampir pasti akan tumbuh menjadi pejantan. Hal tersebut akan menimbulkan masalah jika tingkat kenaikan suhu melaju lebih cepat daripada kemampuan alam melakukan adaptasi. Jumlah betina akan jauh lebih kecil daripada pejantan.

Ancaman yang sama juga dihadapi kelompok ikan. Penelitian terbaru yang dilakukan Natalia Ospina-Alvarez dan Fransesc Piferrer dari Marine Science Institute di Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa 6 genus ikan—dari 20 yang terindikasi—nyata-nyata memiliki jenis kelamin yang ditentukan suhu pengeraman atau biasa disebut TSD (temperature-dependent sex determination). Antara lain, genus Menidia dan Apistogramma.

Hasil penghitungan mereka menunjukkan bahwa kenaikan suhu air sebesar 4 derajat Celcius, yang diprediksi akan terjadi sepanjang abad ini akan menghasilkan rasio pejantan dan betina sebesar 3 berbanding 1. Rasio tersebut sangat berisiko untuk menjamin kelangsungan hidup ikan.

Pada manusia, kenaikan suhu global mungkin tak berpengaruh pada rasio jenis kelamin. Namun, dampaknya tetap mengancam kelangsungan hidupnya di muka Bumi

sumber

Jumat, 26 Desember 2008

Eating Your Way to a smaller ‘Ecological Footprint’


 

Pilihan makanan kita mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap lingkungan. Menjalankan pola makan daging, telur dan produk hewani ibarat menginjak – injak bumi ke dalam kehancuran karena berdampak
buruk bagi lingkungan dan menguras sumber daya alam. Berpindah ke pola makan vegetarian mengurangi " jejak kaki ekologis ", membuatmu berjalan dengan langkah ringan di planet ini dan berbelas kasihan terhadap penghuninya.

Sebagai bahan pertimbangan :

Memakan daging hewan menyebabkan pemanasan global. Laporan utama Universitas Chicago di tahun 2006 menemukan bahwa menjalankan pola makan vegetarian memiliki pengaruh yang besar dalam memerangi pemanasan global dari pada menggunakan mobil hibrid.

  • Diperlukan lebih dari 16 pon legum hanya untuk menghasilkan 1 pon daging hewan.
  • Di Amerika Serikat, setiap detik ayam, kalkun, babi dan sapi di pabrik peternakan menghasilkan hampir 89.000 pon kotoran yang terkontaminasi dengan antibiotik dan hormon yang disuntikkan pada hewan – hewan ini.

    Menurut EPA, Pabrik peternakan mencemari jalur air melebihi gabungan dari beberapa industri.

  • Industri pertanian menghabiskan dan menguras sumber daya dalam jumlah yang sangat besar. Di Amerika Serikat, 70 % dari padi – padian, 80 % dari lahan peternakan, setengah dari sumber air, dan sepertiga dari bahan bakar fosil digunakan untuk mengembangbiakkan hewan-hewan pedaging.
  • Memakan daging hewan menghancurkan hutan hujan.Banyak pemerhati lingkungan yang kuatir penebangan dan pembakaran hutan Amazon untuk dijadikan lahan peternakan sapi.Tetapi mungkin yang paling mengkuatirkan adalah penghancuran hutan hujan untuk membuka lahan baru untuk menanam bahan makanan untuk pabrik peternakan hewan.Laporan terbaru dari greenpeace menyalahkan Industri daging ayam, terutama KFC dalam menghancurkan hutan Amazon.


 

Dengan memilih pola makan vegetarian dibanding pola makan hewani, kita bisa mengurangi konsumsi sumber daya tanah, air dan minyak juga mengurangi pencemaran.

Tentu saja, dengan mengurangi jejak kaki ekologis juga berarti tidak merusak semua makhluk hidup selain manusia.Dengan berpindah ke pola makan vegetarian, kita bisa menyelamatkan lebih dari 100 ekor hewan setahun dari kekejaman yang mengerikan industri daging, telur dan produk hewani. Dengan belas kasih, beralihlah ke pola makan vegetarian yang sehat dan ramah lingkungan.

Senin, 22 Desember 2008

Perubahan gaya hidup dapat mengerem perubahan iklim

Paris (AFP)
“Jangan makan daging, kendarai sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat ”itulah bagaimana Anda dapat membantu mengerem pemanasan global, itulah yang dikatakan oleh Rajendra Pachauri, ketua dari panel perubahan iklim PBB yang juga pemenang hadiah Nobel.

Laporan tahun 2007 yang dirilis oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) lebih menyoroti masalah “pentingnya mengubah pola hidup,” kata Rajendra Pachauri dalam sebuah konferensi pers di Paris. “Ini adalah sesuatu yang takut untuk diucapkan oleh IPCC beberapa waktu yang lalu, tetapi kini sudah saatnya kami harus mengatakannya.” Kurangilah konsumsi daging — daging benar-benar komoditas penghasil karbon yang signifikan,” katanya, menambahkan pernyataan sebelumnya bahwa konsumsi daging dalam jumlah besar juga buruk bagi kesehatan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa menghasilkan 1 kg daging akan menghasilkan 36,4 kg emisi karbon dioksida. Sebagai tambahan, pemeliharaan dan transportasi yang digunakan untuk menghasilkan sepotong daging sapi, kambing, atau babi tersebut membutuhkan energi dalam jumlah yang sama untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama tiga minggu.

Sambil menyebutkan hal-hal yang bisa dilakukan perorangan untuk melawan pemanasan global, Pachauri memuji sistem komunal, dan akses sepeda berlangganan di Paris dan kotakota lain di Perancis sebagai “perkembangan yang sangat hebat.” “Daripada mengendarai mobil hanya untuk menempuh jarak 500 meter, kita dapat menggunakan sepeda atau berjalan kaki dan itu akan menghasilkan perbedaan yang sangat besar,” katanya kepada jurnalis-jurnalis yang menghadiri konferensi pers tersebut.

Perubahan pola hidup lain yang dapat berkontribusi dalam perlawanan dengan pemanasan global adalah
dengan tidak membeli barang “hanya karena mereka tersedia.” Dia meminta agar konsumen membeli hanya barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan.

Sejak penganugerahan nobel kepada IPCC dan mantan wakil presiden Amerika Serikat Al Gore pada Oktober2007 kemarin, Pachauri telah berkeliling dunia untuk memperingatkan bahaya pemanasan global kepada dunia.

“Saat ini, gambarannya masih suram—apabila umat manusia tidak segera melakukan sesuatu, maka perubahan iklim akan memberikan dampak yang sangat serius,” dia memperingatkan.

Di saat yang sama, dia mengatakan bahwa dia terdorong oleh hasil dari UNFCCC yang diadakan di Bali
kemarin, juga oleh prospek dari system administrasi yang baru di Washington.
(Pemilu Presiden akan segera berlangsung di Amerika Serikat — Penyadur)

“Pernyataan yang terakhir jelas menyebutkan untuk memotong emisi gas rumah kaca besar-besaran, saya
pikir orang tidak dapat lari dari terminology tersebut,” katanya.
Pertemuan di Bali telah menciptakan kerangka untuk perjanjian global tentang bagaimana kita harus menekan emisi karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang terbentuk akibat dari aktifitas manusia, yang akhirnya akan mendorong perubahan iklim.
Pachauri juga merasa optimistis dengan melihat fakta bahwa inilah pertama kalinya sejak negara-negara
di dunia melakukan pertemuan tentang pemanasan global di tahun 1994, “kali ini tidak ada lagi yang mempertanyakan hasil dan fakta yang ditemukan IPCC.”
“Ilmu pengetahuan telah menjadi basis dari tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencegah perubahan iklim,” katanya.

Pada tahun 2007, IPCC telah mengeluarkan laporan seukuran tiga buah buku telepon tentang realitas dan
resiko dari perubahan iklim, itu adalah penelitian ke-4 dalam kurun 18 tahun.
Pachauri mengatakan bahwa sudah terlambat bagi Washington untuk meratifikasi Protokol Kyoto, perjanjian internasional telah mengamanatkan pemotongan emisi karbon dioksida.
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara industri yang tidak mau membuat komitmen seperti itu.
Tetapi dia masih menaruh harapan bagi Amerika Serikat—di bawah administrasi yang baru—nantinya
Amerika Serikat dapat menjadi peserta inti penandatanganan perjanjian-perjanjian berikutnya.
“Dengan pergantian politik yang akan terjadi di Amerika Serikat, harapan untuk terjadinya hal tersebut pasti akan lebih besar dibanding kasus yang terjadi beberapa bulan lalu,” tambahnya.

Di umur 67 tahun, Pachauri mengatakan bahwa dia masih belum memutuskan apakah dia masih akan
mengambil untuk kedua kalinya mandate sebagai ketua dari IPCC. Pemilihan akan diadakan pada bulan September. Di kesempatan lain, dia berkata, pengalaman yang dia miliki selama ini akan memberinya kesempatan lebih besar untuk terpilih kembali.

Tetapi kelebihan dari pensiun, dikatakannya sambil tersenyum, adalah — emisi karbon dioksida yang
dihasilkannya dari segala perjalanan dinasnya — akan berkurang drastis.

Sumber

Rabu, 17 Desember 2008

Penyakit baru akibat Global Warming


Berdasarkan Data Organisasi Kesehatan dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan munculnya penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.

"Yang paling jelas kelihatan penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan," katanya di sela-sela penganugerahan Raksaniyata 2008 di Jakarta. Menurut dia, masalah kesehatan akibat pemanasan global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya dana sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.

Untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh masing-masing negara. Upaya itu baru akan berhasil jika dilakukan melalui kerja sama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan pengendalian penyakit-penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.

"Itu semua penting dilakukan, karena perubahan iklim jelas-jelas akibat dari kegiatan manusia yang tak peduli terhadap keseimbangan alam, yang kemudian berimplikasi serius terhadap kesehatan publik," ujarnya.

Selain menyebabkan gangguan kesehatan, perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang sangat besar. Sepanjang tahun 2006 telah terjadi 390 bencana besar di dunia yang banyak menelan korban.

"Amerika Serikat paling banyak terjadi bencana dibanding negara-negara lain, tetapi untuk jumlah korban paling banyak saat tsunami terjadi di Aceh pada 2004 lalu," jelasnya.

Di Indonesia sendiri, kata dia, bencana alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan karbon dioksida (CO2). Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara pemerintah, dunia usaha dan individu.

sumber

Senin, 15 Desember 2008

Cegah perubahan iklim dengan mengurangi makan daging

London, Salah satu isu yang masih hangat pada 2008 ini adalah perubahan iklim. Bergulirnya isu tersebut membuat orang di dunia berbondong-bondong memperbaiki gaya hidupnya.

Perubahan iklim telah menyebabkan kerusakan alam yang miris, seperti mencairnya es-es abadi di Kutub Utara. Sejumlah ahli di dunia bahkan memprediksi lapisan es abadi di Kutub Utara mungkin hilang sama sekali tahun ini.

Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, kenaikan muka air laut akibat pencairan es besar-besaran tidak dapat dicegah. Banjir mengancam kawasan pesisir seluruh dunia. Kenaikan suhu atmosfer juga ditengarai memicu badai makin sering dan kuat sehingga meningkatkan risiko ancaman kerusakan.

Untuk mencegah hal tersebut bisa dilakukan dengan sederhana asal disadari semua orang. Pakar iklim dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), salah satu badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Rajendra Pachauri, berhasil menemukan hal yang sangat sederhana untuk memperlambat efek perubahan iklim di dunia.

Menurut dia, mengurangi konsumsi daging dapat mereduksi efek tersebut. Dia mengatakan setiap orang harus rela meluangkan satu hari dalam seminggu, hidup tanpa asupan daging.

"Jangan makan daging satu hari dalam satu minggu secara rutin, itu akan mereduksi efek tersebut," ujarnya. Pria vegetarian berusia 68 tahun itu menuturkan diet ini sangat penting karena akan mengurangi jumlah ternak.

Sebab, menurut Badan Pangan Dunia (FAO), usaha peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca secara langsung sebesar 18 persen dari proses pengolahan hingga pemotongan serta gas buang ternak yang mengandung methan. Pengendalian ternak bakal memberikan dampak signifikan.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya

KOTA SAKAI, Sharp Corporation dan Kansai Electric sepakat bekerja sama membangun pembangkit listrik tenaga surya mega di daerah Pelabuhan Kota Sakai di Prefekturat Osaka, Jepang. Proyek yang menghasilkan tenaga listrik total 28 MW bakal terealisasi pada 2011.

Terkait dengan pembangunan ini, Kota Sakai akan menjadikan dirinya metropolitan rendah karbon. Seperti tenaga nuklir dan tenaga hidroelektrik, tenaga surya tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2) selama proses pembangkitan tenaga listrik. Setelah selesai dan beroperasi, proyek ini akan menghasilkan pengurangan emisi CO2 sekitar 10.000 ton setahunnya.

sumber

Jumat, 12 Desember 2008

Gedung Ramah Lingkungan

Hampir setiap bagian dari Gedung Bank Menara Amerika, yang merupakan sebuah gedung pencakar langit yang sedang dalam proses pembangunan di dekat Times Square di kota New York, sengaja dirancang untuk menghemat penggunaan energi. Betonnya saja misalnya, terbuat dari campuran 55% beton dan 45% ampas peleburan bijih besi. Pencampuran ampas ini menghemat energi dan membuat beton lebih kokoh. Menaranya akan menyimpan air limbah dari toilet dan digunakan kembali untuk menyiram toilet.

Gedung ini juga akan mampu menghasilkan pasokan listrik sendiri dengan bahan bakar gas alam yang lebih ramah lingkungan daripada batu bara. Semua keistimewaan ini akan menelan biaya sekitar 3,5 juta dolar Amerika dari total biaya pembangunan gedung sebesar 1,2 milyar dolar Amerika. Namun sang pemilik gedung berharap dapat menutup pengeluaran tersebut dalam beberapa tahun dari seluruh energi yang berhasil dihemat. Bila selesai dibangun tahun depan, maka gedung ini akan menjadi gedung tertinggi ke-2 di kota itu dan akan menjadi satu-satunya gedung yang paling ramah lingkungan di kota New York.


source


Selasa, 09 Desember 2008

Peternakan Menyumbang Gas Rumah Kaca Lebih Besar daripada Transportasi

Presiden Terpilih Barack Obama: Peternakan Menyumbang Gas Rumah Kaca Lebih Besar daripada Transportasi

Baru-baru ini Presiden terpilih Barack Obama berbincang-bincang dengan kontributor New York Times Michael Polen mengenai kebijakan pangan dan bahaya sistem peternakan saat ini.
Presiden terpilih Obama berkata:
"Saya baru saja membaca sebuah artikel di New York Times yang ditulis oleh Michael Pollen mengenai pangan dan fakta bahwa seluruh sistem peternakan kita bergantung pada minyak yang harganya murah. Sebagai akibatnya, sektor peternakan kita sebenarnya menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada sektor transportasi kita. Dan sementara itu juga, peternakan menciptakan monokultur yang rentan terhadap ancaman ketahanan nasional, rentan terhadap harga pangan yang meroket ataupun anjlok, naik turunnya harga komoditas, dan sebagian bertanggung jawab atas ledakan biaya medis karena peternakan menyebabkan diabetes tipe 2, stroke, dan penyakit jantung, obesitas, semua hal yang mendorong pengeluaran besar-besaran dalam biaya medis kita. Itu hanya satu sektor ekonomi. Hal yang sama juga berlaku di sektor transportasi. Hal yang sama juga berlaku dalam konstruksi bangunan. Di seluruh bidang sama.
Bagi kami boleh dibilang kami akan memperbarui total bagaimana kita menggunakan energi untuk menangani perubahan iklim, menangani ketahanan nasional, dan mendorong ekonomi kita, itu akan menjadi prioritas nomor satu saya ketika saya masuk bekerja, dengan asumsi,
sudah jelas, bahwa kita sudah cukup berbuat sesuatu untuk menstabilkan
situasi ekonomi saat ini."
Akhirnya, Barack Obama mengakui secara terbuka bahwa peternakan menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada seluruh transportasi.
Bagi Anda yang belum tahu mengenai hal ini, silakan simak laporan PBB berikut ini :
Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%).3 Lebih lanjut, dalam laporan FAO, "Livestock's Long Shadow", 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2)4.
Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan "Kick The Habit", 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2. Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk berhenti makan daging untuk mengerem pemanasan global.
"Jika seluruh dunia menjadi 100% vegetarian saat ini, efek baiknya akan terlihat kira-kira dalam 60 hari. Dunia akan kembali menjadi Firdaus.

Senin, 08 Desember 2008

Ketebalan Es di Kutub menurun drastis

JAKARTA, Ketebalan es di kutub utara mengalami kecenderungan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Bahkan pada musim panas 2007 mencapai titik terendahnya.

Tebal es di puncak musim panas tahun lalu sekitar 23 persen lebih rendah dari batas minimum tahun 2005. Jika tren tersebut terus berlangsung , bukan mustahil ramalan sejumlah peneliti benar bahwa es di Kutub Utara suatu saat akan mencair seluruhnya pada musim panas.

Christian Haas dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research di Bremerhaven, Jerman, bersama timnya memperkirakan ketebalan laut es di sana selama musim panas tahun 2001, 2004, dan 2007. Mereka menemukan rata-rata ketebalan es di Kutub Utara di akhir musim panas 2007 adalah 1,3 meter. Sebagai perbandingan, ketebalan es 2,3 meter pada tahun 2001, dan 2,6 meter pada tahun 2004.

Tim tersebut pergi ke Kutub Utara menggunakan kapal pemecah es RFV Polarstern bulan Agustus dan September 2001, 2004, dan 2007. Ketika di sana, mereka menggunakan alat helicopter-borne untuk menentukan ketebalan es dengan mengukur daya konduksinya.

Sebelumnya, glasiologist mengukur ketebalan es dengan menempatkan alat secara langsung di atas es. Berdasarkan catatan, ketebalan es pada musim panas 1991 sebesar 3,1 meter.

sumber

Jumat, 05 Desember 2008

Global Warming, Global Vegetarian

Kita telah berada di titik 10 persen di atas batas ambang kemampuan bumi mencerna karbondioksida. Artinya, kita berada di titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.
PENELITIAN ahli beberapa dekade terakhir menunjukkan, makin panasnya bumi berkait langsung dengan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Pencairan es di Antartika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan.

Pada 18 Mei 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Antartika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012.

Sederet tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es pada musim panas 2007, hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya.

Efek domino apa yang membayang bila es mencair semua? Yang pasti, menaikkan level permukaan air laut, dan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Kurang lebih 80 persen sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95 persen oleh air laut.

Konsekuensi lanjut, terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana punya efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari karbondioksida. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal seperti 55 juta tahun lalu.

Mengejar Waktu
Membaca fakta-fakta di atas, patut dicermati tenggat waktu yang semakin
sempit. Dr Rajendra Pachauri, ketua IPCC (Intergovernmental Panel On Climate Change) menekankan, dua tahun ke depan merupakan masa penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak sangat cepat.

James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan kita telah berada di titik 10 persen di atas batas ambang kemampuan bumi mencerna karbondioksida. Artinya, kita berada di titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.
Dalam konferensi pers di Paris, 15 Januari 2008, Dr Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk tidak makan daging. Lebih baik mengendarai sepeda dan jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa “jangan makan daging” berada di urutan pertama? Seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia (FAO) pada 2006 dalam Livestock's Long Shadow-Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18 persen), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api) di dunia (13,5 persen).

Peternakan juga penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan, 70 persen bekas hutan di Amazon, Amerika Selatan, telah dialihfungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahun penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan mengontribusi emisi 2,4 miliar ton karbondioksida.

Bunuh Lingkungan
Selain menguras air, lahan, dan membebani atmosfer, konsumsi daging memukul bumi dengan polusi air, udara dan hilangnya kesuburan tanah serta kepunahan keanekaragaman hayati. Kotoran ternak adalah sumber pencemaran air.

Untuk di Amerika, peternakan menyumbang 900 juta ton kotoran tinja setiap tahun atau setara 130 kali kotoran manusia. Konversi internasional mengidentifikasi 35 titik rawan global, dicirikan dengan hilangnya habitat hingga level parah, 23 di antaranya disebabkan peternakan.

Saat ini, satwa yang sedang berjuang mati-matian bertahan dari pola perubahan iklim yang semakin ekstrem adalah beruang kutub. Makin meluasnya wilayah es mencair berarti makin berkurangnya habitat buruan beruang kutub. Satu persatu beruang kutub mati mengenaskan, lelah berenang bermil-mil jauhnya untuk mencari makan, tanpa hasil dan akhirnya mati kelaparan.

Gerakan Vegetarian
Tindakan waras apa yang segera harus dilakukan? Gerakan vegetarian sebagai solusi segera telah menjadi seruan global. Pertemuan G8 (Group of Eight Environment Ministers) yang dilansir The Japan Times Online 26 Mei 2008, sepakat pada satu seruan : Eat less beef!

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan Wapres Vincent Siew memimpin penandatanganan deklarasi mengurangi karbondioksida dan aksi hemat energi, termasuk didalamnya mengonsumsi produk lokal dan lebih banyak sayur dan mengurangi daging.

Green Peace USA juga mengeluarkan seruan senada : On your plate! Yakni, mengimbau masyarakat dunia untuk mengeluarkan daging dari piring makan, karena makan daging bukan masalah pilihan personal lagi. Kita tidak bebas memilih ketika pilihan itu nyata mengancam
keberlangsungan hidup setiap mahluk di muka bumi ini.

Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produksi hewani, kesempatan kita untuk
menghentikan perubahan iklim adalah nihil.

Daging! Kini bukan masalah pilihan personal lagi, suka atau tidak suka, makan daging telah menjadi masalah yang mengancam kelangsungan hidup setiap orang di muka Bumi ini (World Watch Institute, 2004).

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung bumi.
Sejenak merasakan beban berat bumi ini, mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah. Terwujudnya masa depan bumi yang indah dan itulah yang hendak kitawariskan ke anak cucu kita kelak.

Sukasin Loe ST
Aktivis Indonesia Vegetarian Society Surabaya

Mobil Bertenaga Matahari Keliling Dunia

POZNAN, Teknologi bersih kini telah siap untuk digunakan menggantikan mesin-mesin lama yang tidak ramah lingkungan. Hal tersebut ditandai dengan dipamerkannya sebuah mobil bertenaga Matahari pertama yang sedang menyelesaikan perjalanannya keliling dunia.

Mobil kecil dan ringan dengan dua tempat duduk itu muncul di arena pertemuan mengenai perubahan iklim yang dihadiri delegasi dari 190 negara di Poznan, Polandia, Kamis (4/11). Pejabat PBB untuk Perubahan Iklim, Yvo de Boer menyempatkan diri untuk mencoba kendaraan tersebut menuju sebuah gedung tempat pertemuan berlangsung.

"Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah sebuah mobil bertenaga Matahari berkeliling ke seluruh penjuru dunia tanpa menggunakan satu tetes pun bahan bakar minyak," ujar Louis Palmer, seorang guru dan petualang dari Swiss yang mengendarai mobil tersebut.

Ia dengan bangga mengatakan bahwa teknologi mobil tanpa BBM sudah siap, baik untuk lingkungan, dan ekonomis. Tak kalah pentingnya teknologi ramah lingkungan yang dapat menekan laju pemanasan global sudah sangat layak digunakan.

Palmer muncul di Poznan setelah menyelesaikan perjalanan sejauh 52.000 kilometer. Ia berangkat dari Lucerne, Swiss 17 bulan lalu dan telah melewati 38 negara. Mobil yang tidak mengelaurkan suara sama sekali itu dapat melaju hingga 90 kilometer perjam dan menyelesaikan 300 kilometer dengan baterai yang berisi tenaga penuh. Palmer mengaku hanya berhenti dua hari sepanjang perjalanannya.

"Mobil ini berjalan seperti jam Swiss," ujarnya untuk menggambarkan ketahanan mobil yang dikembangkan para ilmuwan Swiss itu. Palmer menyebutnya taksi Matahari karena sudah mengantarkan setidaknya 1000 orang penting dari berbagai belahan dunia. Antara lain Gubernur New York, Michael Bloomberg dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Kehadirannya di Poznan untuk memberikan dukungan kepada sejumlah delegasi yang tengah membicarakan upaya pengendalian pemanasan global. Mereka sedang membicarakan draft perjanjian baru pascaberakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012. Hasil pembahasan tersebut diharapkan selesai dan siap disepakati dalam pertemuan di Kopenhagen, Denmark pada September 2009.

"Di konferensi ini, kita membicarakan penurunan emisi antara 10-20 persen. Saya ingin menunjukkan bahwa kita bisa menurunkan emisi hingga 100 persen," ujar Palmer.

Kamis, 04 Desember 2008

Polusi Udara akibat peternakan

Pabrik peternakan juga memproduksi debu dan kontaminasi lain dalam jumlah besar yang menyebabkan polusi udara. Sebuah penelitian di Texas menemukan bahwa banyak pakan ternak di negara bagian tersebut menghasilkan lebih dari 14 juta pon debu pertahun yang mengandung organisme biologi aktif seperti bakteri, jamur, dan fungi yang berasal dari kotoran dan makanan.

Kotoran dalam jumlah besar yang dihasilkan dari peternakan ini mengeluarkan gas beracun seperti hydrogen sulfide dan ammonia ke udara. Berdasarkan laporan dari EPA ( Enviromental Protection Agency – Dinas Perlindungan Lingkungan ) hampir 80 % dari emisi ammonia di Amerika Serikat berasal dari sisa pembuangan hewan.

Seakan masalah kimia dari sisa pembuangan hewan tidak cukup besar, industri daging dan hewani menambah masalah krisis kualitas udara. Ketika tempat penampungan limbah yang menampung berton – ton kotoran dan urin sudah penuh, pabrik peternakan secara berkesinambungan akan mengurus batas polusi air dengan menyemprotkan pupuk cair ke udara, menghasilkan kabut yang akan terbawa oleh angin. Penduduk sekitar terpaksa menghirup racun dan bakteri patogen dari pupuk yang disemprot.

Menurut laporan Senat negara bagian California, “ Penelitian menunjukan kalau penampungan yang menebarkan racun kimia ke udara dapat menyebabkan masalah peradangan, daya tahan tubuh melemah , iritasi, dan gangguan kimia saraf pada manusia.

Rabu, 03 Desember 2008

Melamin dalam makanan manusia

Beberapa hari ini telor yang dijual di Hongkong, Liaoning, Hubei, Shanxi setelah diperiksa mengandung melamin.
Setelah peristiwa susu beracun meledak satu bulan, sekali lagi melamin menimbulkan badai atas keamanan makanan. Beberapa hari ini telor yang dijual di Hongkong, Liaoning, Hubei, dan Shanxi setelah diperiksa mengandung melamin. Para ahli mengemukakan melamin telah masuk dalam rantai makanan manusia, makanan yang terkontaminasi bukan hanya susu saja, namun sudah menjalar ke binatang peliharaan, daging, telor, dll.

Setelah satu bulan peristiwa susu beracun terjadi, sekali lagi melamin menimbulkan angin topan tentang keamanan makanan. Beberapa hari ini telor yang dijual di Hongkong, Liaoning, Hubei, Shanxi setelah diperiksa mengandung melamin. Para ahli mengemukakan melamin yang terdeteksi dalam telor berhubungan dengan pakan ternak.

Menurut penyelidikan "Harian Nanfang", dalam pakan ternak ditambahkan melamin, masalah ini jauh hari sudah merupakan rahasia terbuka dalam usaha pakan ternak. Ini dimulai dari lima tahun lalu, dari awal budidaya industri perikanan, akhirnya merambat sampai usaha ternak dan unggas, yang lebih menggemparkan orang adalah, melamin yang ditambahkan ke dalam makanan binatang, pada dasarnya berasal dari ampas residu industri kimia.

Di propinsi Lianing ditemukan anjing rakun mati karena batu ginjal, setelah diotopsi terlihat jelas lukanya, berlubang. Dalam permukaaan potongan dipenuhi oleh pecahan halus batu ginjal. (Gbr. Sinovision.net)

Dalam susu, telor terdeteksi melamin, kasus ini memperlihatkan bahwa bahan baku racun plastik kimia ini telah masuk ke dalam rantai makanan manusia. Efeknya akan jauh melampaui peristiwa susu beracun, ini berarti binatang peliharaan yang diberi makanan beracun seperti babi, kambing, sapi dan ikan, kemungkinan besar mengandung melamin.

Setelah peristiwa susu melamin meledak, seorang ahli pengendalian keamanan makanan dari sebuah perusahaan makanan terkenal di Amerika berkata kepada "Era Baru" di Amerika, perusahaan ilegal di China memasukkan melamin tujuannya adalah untuk memalsukan kadar protein, dapat diduga dalam makanan yang berasal China dan bahan baku yang mematok kadar protein sebagai standar pemeriksaan, seperti produk susu, produk kacang, pakan ternak kemungkinan besar telah ditambahkan melamin. Selain itu, tepung susu adalah salah satu bahan baku industri makanan, dalam tepung susu yang berasal dari China secara umum mengandung melamin, itu berarti permen, biskuit, kue dan lain-lainnya yang memakai tepung susu, semua bermasalah. Ahli ini dengan pedih mengungkapkan, apa yang dikonsumsi oleh rakyat China setiap hari hampir semua bisa terkontaminasi.

Dari kasus yang sudah dilaporkan, kelihatannya berbagai macam makanan di China termasuk produk susu, kacang, permen, biscuit, seafood, unggas, telor, daging dan yang lainnya sudah secara luas terkomtaminasi oleh melamin.

Oleh : Wang Zhen, Epoch Times

Definisi Global Warming

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

sumber

Pemanasan Global Ancam Negara Kepulauan

Pemanasan global yang mengakibatkan kenaikan suhu diatas permukaan bumi mengancam keberadaan negara-negara kepulauan seperti Indonesia, Filipina dan Jepang.

Hal itu dikatakan Ketua Program Doktor dan Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Alvi Syahrin, saat sosialisasi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim, di Medan.

Ia mengatakan, pemanasan global yang terjadi diramalkan juga akan mencairkan lapisan es Greendland hingga menyebabkan naiknya permukaan laut menuju tujuh meter.

"Kalau ini sampai terjadi, maka pulau-pulau kecil dibelahan dunia akan tenggelam oleh air laut. Indonesia sendiri dalam dua tahun belakangan ini sudah kehilangan 24 pulau-pulau kecil akibat naiknya permukaan laut,"katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Ir.Sabar Ginting MBA, mengatakan, rata-rata tahunan es lautan artik telah menciut sebesar 2,7 persen perdekade, dengan penurunan lebih besar pada saat musim panas sebesar 7,4 persen per dekade.

Penurunan glacier dan tutupan es juga berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut sebesar 0,5 mm per tahun dari tahun 1961 hingga 2003.

Akibat pemanasan global, kata dia, pada pertengahan abad rata-rata run off sungai dan ketersediaan air diproyeksikan akan meningkat 10-40 persen didaerah lintang tinggi dan dibeberapa wilayah tropis basah.

Sementara diwilayah daerah lintang menengah dan daerah tropis kering ketersediaan air akan menurun sekitar 10-30 persen.


sumber