Selasa, 02 Desember 2008

Perubahan Iklim Paksa Jutaan Orang Mengungsi

BONN, RABU 8 Oktober 2008 - Kerusakan lingkungan hidup akibat perubahan iklim dapat memaksa jutaan orang di dunia harus meninggalkan tempat tinggalnya selama ini dalam beberapa dasawarsa ke depan. Ancaman tersebut akan terjadi di wilayah-wilayah yang mengalami penggurunan dan tergenang banjir.

Para ahli memperkirakan bahwa hingga 2050 sebanyak 200 juta orang akan kehilangan tempat tinggal akibat masalah lingkungan hidup. Jumlah tersebut setara dengan penduduk di dua pertiga wilayah Amerika Serikat hari ini. Demikian hasil analisis yang dialnsir U.N. University's Institute on the Environment and Human Security di Bonn, Jerman, Rabu (8/10).

"Semua petunjuk memperlihatkan kita berhadapan dengan masalah utama global yang terus mencuat," kata Janos Bogardi, Direktur U.N. University's Institute on the Environment and Human Security.

Bogardi mengatakan jumlah pendatang lingkungan hidup saat ini dapat mencapai 25 hingga 27 juta orang. Tak seperti pengungsi politik yang meninggalkan negeri mereka, banyak orang mencari rumah baru di negara mereka sendiri.

Ia menyatakan penting untuk menyusun cara melacak jumlah orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dengan alasan seperti gagal panen yang berulang dan disebabkan oleh pemanasan global, sehingga pemerintah dan organisasi bantuan dapat berusaha membantu mereka. Pada waktu lalu, banyak orang seperti itu akan didaftar sebagai pengungsi ekonomi.

"Perpindahan yang dilatarbelakangi lingkungan hidup diperkirakan akan menonjolkan makin banyak orang tua, anak-anak, perempuan dan orang yang lebih miskin, dari kondisi lingkungan hidup yang lebih menyusahkan," katanya. Para ahli dari hampir 80 negara direncanakan bertemu di Bonn dari 9 hingga 11 Oktober untuk membahas cara membantu pendatang lingkungan hidup.

Studi di 22 negara berkembang oleh lembaga pimpinan Bogardi dan beberapa lembaga penelitian lain Eropa mengindikasikan bahwa kerusakan lingkungan hidup juga memicu maraknya jaringan penyelundupan manusia. Di Bangladesh, misalnya, perempuan yang memiliki anak kecil dengan suami meninggal di laut selama topan Sidr atau berada jauh sebagai tenaga kerja migran adalah korban empuk bagi penyelundup. Mereka tak jarang berakhir di jaringan pelacuran atau di tempat kerja paksa di India.

Pola serupa ditemukan di setidaknya satu studi lain nasional. Eksploitasi manusia yang dilakukan oleh penyelundup dilaporkan makin luas saat arus pendatang tak resmi dan tidak sah menggelembung. Mereka adalah pengungsi iklim, orang-orang terlantar akibat bencana lingkungan yang dipicu perubahan iklim.


Sumber

Tidak ada komentar: